Langsung ke konten utama

PEMERINTAH INDONESIA HARUS SEGERA MENINGGALKAN ERA UPAH MURAH


Jakarta, JENIUSLINE.- Menjadikan Samudera Group sebagai tempat yang nyaman dan kondusif untuk bekerja dan meningkatkan kualitas hidup adalah perbedaan antara menjadi perusahaan yang baik dan perusahaan yang besar. Mungkin banyak perusahaan besar milik para konglomerat kapitalis, tapi belum tentu menjadi tempat yang nyaman dan kondusif bagi para karyawan untuk meningkatkan penghasilan mereka.

Demikian disampaikan oleh Chairman Samudera Group, KGPH Eko Gunarto Putro kepada wartawan seputar Kekhawatiran sebagian pengusaha dengan adanya kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51%, akan Menjadikan Beban Industri Makin Berat, di kediamannya, Jati Bening Estate, Bekasi, Jawa Barat. "Upah buruh atau gaji karyawan jangan dijadikan alasan sebagai penyebab lemahnya daya saing perusahaan,"

Menurut Kangjeng Eko, pemberian kenaikan upah minimum itu sudah menjadi hak normatif para pekerja yang harus dilaksanakan. Meski saat ini, perusahaan industri sedang dihadapkan pada persoalan ekonomi yang tak menentu karena derasnya produk impor. "Sudah waktunya kita meninggalkan era upah murah sebagai pemicu daya saing. Karena itulah untuk mengejar investasi perlu dilakukan dengan menjual kreativitas, produktifitas dan tingkat efisiensi," imbuhnya.

Kangjeng Eko mengingatkan pemerintah Indonesia harus serius untuk meninggalkan era upah murah yang memberat para buruh itu. Pemerintah harus berperan aktif untuk menyadarkan para pengusaha bahwa maraknya tuntutan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) berbanding lurus dengan biaya kebutuhan hidup yang terus meningkat. "Tetapi, tingkat kenaikan UMP tentu harus disesuaikan dengan kemampuan pengusaha dan harus diseimbangkan dengan produktifitas serta tingkat efisiensi yang tinggi." paparnya.

Para pengusaha, kata Kangjeng Eko harus dibina agar mereka jangan terperangkap dengan hitungan bisnis Kapitalis maupun Sosialis. Kita harus kembali ke Jati Diri bangsa, sebagai Pewaris Budaya Nusantara. "Sistem Ekonomi Pancasila atau Sistem Ekonomi Gotong Royong berangkat dari kesadaran tentang etika, sebuah ethical economy. Sangat berbeda dengan sistem lain, baik kapitalisme maupun sosialisme," tegas Kangjeng Eko.

Menurut Chairman Samudera Group itu, Kapitalisme melihat buruh hanyalah pekerja dan si majikan adalah pemberi kerja, status di antara keduanya secara otomatis menimbulkan adanya tingkatan kelas secara ke atas dan ke bawah, atau yang biasa disebut dengan stratifikasi sosial.

"Hal ini menimbulkan perbedaan distribusi wewenang antara majikan dan buruh serta munculnya perbedaan penghasilan atau gaji berdasarkan posisi, status dan kelebihan yang dimiliki," katanya.

Sedangkan dalam konteks upah terhadap buruh, ujar Kangjeng Eko, Kapitalisme melihat bahwa pemberian upah oleh kapitalis hanya sekedar pengganti biaya atas apa yang telah dikerjakan, atau hanya sekedar untuk melanjutkan hidup serta besaran upah disesuaikan dengan standar hidup minimum di daerah tempat si buruh bekerja

"Adapun dalam Budaya Nusantara yang bernafaskan Islam, melihat buruh merupakan makhluk Allah SAW yang sama dengan manusia lainnya. Maka Islam tidak pernah menganjurkan memusuhi kekayaan dan orang-orang kaya sabagaimana dalam faham Sosialisme. Tidak juga membebaskan sebebas-bebasnya individu sebagaimana dalam faham Kapitalisme," kata Kangjeng Eko.

Oleh karena itu, Sistem Ekonomi Gotong Royong memilih jalan keadilan dalam mencapai kesejahteraan sosial. Bahwa kesejahteraan sosial yang tercapai haruslah dibangun di atas landasan keadilan.

"Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan pemerintah harus berpihak kepada rakyatnya, bukan malah membela pengusaha," pungkas Eko Gunarto Putro. (az).




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PT. CITRA SAMUDERA RAYA : “TERBUKA PELUANG BESAR MENJADI PELAUT INTERNASIONAL”

Jakarta, JENIUSLINE.- Memasuki tahun 2020, Indonesia berpeluang merebut kebutuhan tenaga pelayaran internasional, khususnya kapal penumpang dan perikanan dalam jumlah yang cukup besar bilamana pemerintah memberikan dukungan dengan mendatangkan tenaga pendidik profesional di bidang tersebut.  Saat ini, pekerjaan di dalam negeri terbatas, penggajian juga tidak memadai. Sementara itu, kesempatan bekerja di kapal asing  terbuka lebar  dan penggajian pelaut di luar negeri jauh lebih baik. Karena itu, pemerintah perlu  memfasilitasi  serta memberi kemudahan kepada perusahaan pengerah tenaga kerja pelaut ( Recruitment Crewing Agency )  dan  mendukung   calon ABK yang ingin memperoleh kerja di luar.  Demikian disampaikan Direktur Umum dan Operasional PT. Citra Samudera Raya (CSR), Masrul Chaniago, S.Sos kepada wartawan seputar perlunya kerjasama Pemerintah dan Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang ...

MENIKMATI KEDAMAIAN DI SURAU INYIAK CUBADAK DI KAKI BUKIT BARISAN 😇

Malam yang sunyi, berganti kedamaian di pagi yang dingin. Bukit-bukit di Nagari Kamang Mudik masih berselimutkan kabut tipis pagi itu saat matahari mulai menampakkan dirinya di sela-sela awan beriring. Melengkapi Panorama Alam Nan Permai. Segarnya Tetes Embun Pagi, Menghilangkan Rasa Gundah di Hati. Langit Cerah Berwana Biru. Berhias Awan Putih Berpadu. Indahnya Nagariku Yang Penuh Berkah. Langit biru yang cerah menaungi barisan gunung dan lembah-lembah, hamparan sawah dihiasi padi sedang menguning di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudik, Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kicau Burung Begitu Ramai. Seperti Riang Menyambut Padi yang tak lama lagi akan Dipanen. Pagi itu, sangat terasa Nikmatnya secangkir kopi cinta yang semuanya menggairahkan karena dihidangkan bersama sepiring singkong rebus penuh Kasih Sayang. Sambil menyeruput kehangatan kopi, resapi semilir angin sejuk diantara gemerisik daun-daun sedang menari. Ditingkah gemericik air jatuh dari Pi...

VIRUS CORONA DAN TANGGUNG JAWAB PARTAI POLITIK, DIPERTANYAKAN⁉️🤭

Cikarang, SKJENIUS.COM.-  Sistem Ekonomi yang berada dalam Cengkeraman Kapitalis dan bergelimang Riba , ternyata  sangat rentan  dihantam badai pandemi covid-19. Belum lagi, Utang Luar Negeri yang makin membengkak sampai Rp 6.376 Triliun membuat perekonomian Indonesia semakin sulit bergerak. Seiring dengan itu, Jebakan Utang  (debt trap)  Cina Sosialis pun, sangat gencar menancapkan kukunya di Bumi Nusantara. Sedangkan, Kebijakan Pemerintah nampaknya Belum berpihak kepada kaum Buruh dan Masyarakat Adat, kesemuanya itu, tentu saja semakin melemahkan posisi Umat dalam Politik dan Ekonomi.  Demikian terungkap dalam Diskusi Bertajuk  “Virus Politik di Balik Corona”  yang diselenggarakan Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu (PNB) di Pendopo Al-Hikmah, Cikarang, Jawa Barat.  “Karuan, Kesenjangan Sosial makin Melebar. Apalagi dampak hantaman Badai Pandemi Corona telah membuat Ekonomi Makin Merosot, PHK di mana-mana, pengangguran makin m...